Peran Media Sosial dalam Informasi, Tren, dan Penggunaan Kosmetik

23-12-2025 Umum Dilihat 269 kali

Media sosial sebagai sumber informasi dan tren kosmetik

Di era digital, media sosial bukan sekadar tempat berbagi foto, melainkan pusat komando bagi informasi dan tren kosmetik dunia. Platform visual seperti Instagram, TikTok, dan YouTube kini mendominasi dengan konten yang persuasif—mulai dari estetikanya foto hingga ringkasnya video tutorial. Akses tanpa batas ruang dan waktu ini memungkinkan siapa saja mendapatkan ulasan produk atau melihat siaran langsung secara instan. Tak heran jika media sosial kini menjadi rujukan utama konsumen untuk memantau perkembangan dunia kecantikan.


Pengaruh kuat influencer dan dinamika FOMO

Salah satu penggerak utama ekosistem ini adalah beauty influencer. Melalui komunikasi yang personal dan relatable, mereka membangun kedekatan emosional yang membuat ulasan mereka terasa lebih jujur dibandingkan iklan konvensional. Kepercayaan inilah yang membuat pengikut mereka menjadikan sosok influencer sebagai kompas dalam memilih produk.

Namun, popularitas ini sering kali dibarengi dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Algoritma platform yang kuat dapat membuat sebuah tren menjadi viral dalam sekejap, mendorong konsumen untuk mencoba produk tanpa mempertimbangkan kecocokan kulit atau aspek legalitasnya. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang terpapar promosi di media sosial, semakin besar keinginan mereka untuk membeli.

Bahkan, standar kecantikan sering kali terdistorsi oleh tampilan “sempurna” para influencer, yang memicu hadirnya produk dengan klaim berlebihan dan berpotensi menyesatkan. Minimnya literasi digital dan pemahaman terhadap regulasi kosmetik berpotensi membuat konsumen menerima informasi secara sepihak tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.

Sikap kritis dan selektif dari konsumen diperlukan dalam menyikapi informasi kosmetik di media sosial. Edukasi mengenai literasi digital, pemahaman terhadap klaim produk, serta kesadaran akan pentingnya keamanan dan regulasi kosmetik menjadi faktor penting agar media sosial tidak hanya berperan sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai media informasi yang bertanggung jawab.


Pengaruh media sosial terhadap perilaku penggunaan kosmetik

Setelah menjadi sumber utama informasi dan tren, media sosial juga berperan dalam memengaruhi perilaku masyarakat dalam memilih dan menggunakan produk kosmetik. Berdasarkan penelitian oleh Budianto (2025), makin sering masyarakat melihat promosi suatu produk di media sosial, makin besar pula minat mereka untuk mencoba produk tersebut.

Produk kosmetik yang dipromosikan oleh influencer dengan pengikut dan engagement tinggi juga dianggap lebih berkualitas. Selain influencer, konsumen juga mempercayai testimoni dari konsumen lain yang pernah mencoba produk kosmetik (Nanda et al., 2024). Metode promosi dengan cara live streaming meningkatkan daya saing terhadap produk kosmetik (Digdya & Junaidi, 2025). Selain itu, promosi yang dilakukan dengan memperlihatkan masalah kulit mendorong masyarakat untuk membeli suatu produk kosmetik (Budianto, 2025).

Tidak hanya memengaruhi pemilihan kosmetik, paparan promosi dan konten kecantikan yang berulang di media sosial juga berkontribusi dalam membentuk standar kecantikan di masyarakat. Masyarakat terpengaruh oleh konten-konten di media sosial, khususnya influencer yang menampilkan penampilan yang dianggap ideal seperti tubuh langsing dan kulit mulus (Indriani et al., 2025).

Selain itu, masyarakat sering merasa takut tertinggal jika tidak mengikuti tren yang beredar di ruang digital. Kondisi ini membuka peluang bagi brand kosmetik untuk mengembangkan produk-produk yang diklaim mampu membantu konsumen memenuhi standar tersebut, mulai dari produk untuk mencerahkan kulit, mengencangkan wajah, hingga produk dengan klaim yang berlebihan dan berpotensi menyesatkan.

Oleh sebab itu, penting bagi konsumen untuk meningkatkan literasi terkait produk kosmetik yang akan dibeli, tidak hanya berdasarkan popularitas, tetapi juga keamanan, manfaat, dan kesesuaiannya dengan kondisi kulit.


Dampak positif dan negatif media sosial dalam penggunaan kosmetik

Berbicara mengenai hubungan media sosial dengan penggunaan kosmetik tidak terlepas dari dampak yang diberikan. Kuatnya paparan konten visual secara terus-menerus seperti yang diunggah di TikTok, Instagram, dan X membawa konsekuensi dua arah terhadap sudut pandang dan preferensi masyarakat terhadap kosmetik.

Di satu sisi, fenomena ini dapat membuat penggunanya memiliki pertimbangan lebih mendalam terkait kosmetik, namun di sisi lain juga dapat membahayakan penggunanya. Secara mendetail, berikut adalah dampak positif dan negatif yang muncul dari fenomena tersebut.


Dampak positif

a. Kemudahan dalam mengakses informasi dan edukasi terkait kosmetik
Saat ini, kemudahan penggunaan media sosial dalam mengunggah informasi juga sebanding dengan kemudahan dalam mengakses informasi. Banyaknya konten edukasi yang dibuat oleh para ahli di bidang kosmetik seperti dokter spesialis kecantikan atau regulator kosmetik yang berwenang membuat masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih kosmetik. Masyarakat juga memiliki literasi yang baik dalam memutuskan untuk membeli dan menggunakan suatu produk kosmetik yang sesuai standar dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Peningkatan tingkat pemilihan kosmetik berdasarkan kebutuhan kulit
Informasi yang beredar di media sosial membantu pengguna dalam memahami kebutuhan kulit berdasarkan kondisi kulit (skin type) dan masalah kulit (skin concern) seperti kulit kering, berminyak, sensitif, hingga berjerawat. Sehingga, masyarakat dapat teredukasi dan lebih selektif dalam memilih kosmetik, khususnya yang mengandung bahan aktif (active ingredients) yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing. Hal ini tentunya juga dapat mengurangi kemungkinan efek samping yang merugikan.


Dampak negatif

a. Maraknya tren instan tanpa pertimbangan keamanan
Hal ini memicu masyarakat untuk memprioritaskan hasil yang instan demi mengikuti tren yang viral di media sosial. Akibatnya, banyak pengguna mengabaikan aspek keamanan seperti mengecek izin edar BPOM atau risiko jangka panjang, hanya demi memperoleh tampilan instan yang populer.

b. Peningkatan normalisasi penggunaan kosmetik berisiko
Masifnya konten kecantikan yang ekstrem membuat praktik yang tidak lazim dan sesuai standar perlahan dianggap wajar oleh masyarakat. Penggunaan bahan kosmetik yang berdosis tinggi dan tidak wajar secara mandiri tanpa pengawasan medis semakin banyak ditiru karena pengaruh dunia digital yang menormalisasi risiko demi estetika penampilan.

c. Penyebaran klaim berlebihan dan disinformasi
Maraknya pemasaran produk kosmetik dengan janji manis dan bombastis serta ulasan yang tidak jujur dapat menyesatkan masyarakat. Hal ini berisiko mengakibatkan kerugian kesehatan maupun finansial.


Menjadi konsumen cerdas: strategi menyaring informasi dan tren di media sosial

a. Memilah informasi yang beredar di media sosial
Perlunya bersikap kritis terhadap informasi terkait kosmetik yang muncul untuk membedakan mana konten yang murni edukasi (berdasarkan sains atau pengalaman jujur) dan mana yang hanya promosi terselubung. Pastikan juga untuk memperoleh informasi dari akun yang kredibel seperti akun resmi instansi (BPOM) atau akun tenaga kesehatan yang ahli di bidang kecantikan.

b. Melakukan Monitoring Efek Samping Kosmetik (Meskos)
Perhatikan reaksi kulit setiap kali mencoba produk kosmetik baru atau yang sedang tren. Jika terjadi efek samping yang tidak diinginkan, segera laporkan kepada pihak berwenang seperti industri yang bersangkutan, tenaga kesehatan, dan BPOM.

c. Menerapkan budaya “Cek KLIK” sebagai filter utama
Sebelum membeli produk kosmetik yang trending, biasakan diri untuk melakukan “Cek KLIK”, yaitu Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.

d. Meningkatkan literasi digital terkait personalisasi kulit
Tingkatkan pemahaman terhadap kondisi kulit masing-masing karena kulit setiap orang berbeda. Selain sebagai referensi dalam memilih produk kosmetik, media sosial dapat dijadikan sebagai kanal edukasi untuk memperoleh informasi terkait personalisasi kulit. Ingat, media sosial dapat dijadikan referensi awal, tetapi bukan satu-satunya standar mutlak dalam memilih produk.


Referensi

  • Budianto, Y. 2025. Hubungan Iklan Media Sosial Terhadap Pemilihan Skin Care Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi. Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-Ma’arif Baturaja, 10(1), 202–207.

  • Digdya, A. P., Junaidi, A. 2025. Pengaruh Promosi Media Sosial dan Implikasinya terhadap Brand Image Produk Skincare pada Generasi Z. Kiwari, 4(3), 218–225.

  • Indirani, A. R. D., Aini, D. K., Ikhrom, I. 2025. Pengaruh Influencer Kecantikan terhadap Ketidakpuasan Citra Tubuh pada Perempuan. Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Humaniora, 4(4), 5113–5121.

  • Nanda, R. M., Sudarwati, A. N., Andriani, T. A. 2024. Pengaruh Media Sosial Terhadap Keputusan Pembelian Melalui Motivasi Konsumen Sebagai Variable Intervening pada Produk Skincare di Samarinda. Journal Geoekonomi, 15(1), 201–210.

 

(NP, ZB, RL)

Sarana