Jakarta, BPOM melalui Direktorat Pemberdayaan Masayarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik menggelar webinar dengan tema: “Jamu Dulu, Kini dan Nanti” pada Rabu (29/05/2024) sebagai rangkaian Pekan Jamu yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Jamu Nasional yang ke-16 Tahun 2024.
Hadir memberi sambutan, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Bapak Kashuri. Beliau menyampaikan bahwa peningkatan kualitas obat bahan alam Indonesia harus dimulai dari sekarang agar dapat mengimbangi perkembangan obat bahan alam di dunia. Indonesia masuk dalam peringkat kedua sebagai negara dengan biodiversity terbesar namun peringkat ke-19 sebagai pengekspor obat bahan alam didunia.
Kegiatan diawali dengan prosesi minum jamu bersama yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir di Gedung Bhinneka Tunggal Ika BPOM sebagai salah satu aksi nyata dari program Jawara (Jamu Warisan Nusantara) yang mendorong pelestarian budaya minum jamu dalam kehidupan sehari-hari.
Webinar yang diikuti oleh 2351 orang peserta baik secara luring maupun daring ini, selain menghadirkan Ibu Reri Indriani selaku PFM Ahli Utama BPOM yang menyampaikan paparan mengenai dukungan BPOM terhadap perkembangan Jamu di Indonesia, juga menghadirkan beberapa narasumber eksternal yang memiliki pengalaman langsung dalam dunia perkembangan jamu di Indonesia yaitu Bapak Jaya Suprana (Presiden Komisaris Jamu Jago), Bapak Jony Yuwono (Ketua Umum GP Jamu) dan Prof. Raymond Tjandrawinata (Director of Business Development and Scientific Affairs at Dexa Grop).
“Pada jaman dahulu, pengobatan tradisional berhasil menjaga kesehatan para leluhur, hal ini perlu dikembangkan pada jaman sekarang” ucap Pak Jaya Suprana. Pada akhir paparannya beliau menyampaikan harapan kepada BPOM, agar klasifikasi obat bahan alam dibagi menjadi: Jamu, Jamu terstandar dan Jamu Farmaka yang didasarkan pada hasil pengujian formula, bukan dari pengujian jenis tanamannya.
Dalam paparannya, Bapak Joni Yuwono menyampaikan bahwa Jamu atau djamoe merupakan singkatan dari djampi yang berarti doa atau obat dan oesodo (husada) yang berarti kesehatan, filosofi minum jamu digambarkan sebagai doa kesehatan dari penikmat jamu itu sendiri. “Mari kita bangga mengkonsumsi jamu sebagai budaya negara kita sendiri, mari menjamu dunia” ujar beliau.
Dari dunia praktisi juga dihadirkan Prof. Raymond Tjandrawinata (Director of Business Development and Scientific Affairs at Dexa Grop). Prof, Raymond menyatakan bahwa dengan ditetapkannya Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO, kita tak boleh berpuas diri, kita harus lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas Jamu Indonesia. Modernisasi terhadap produk jamu perlu terus dilakukan melalui standarisasi produk sesuai standar internasional, agar jamu Indonesia dapat diterima dunia. “Banyak produk herbal dari luar negeri yang berhasil masuk ke Indonesia, produk-produk tersebut menggunakan teknologi yang lebih canggih, sehingga efikasi dalam pengobatan lebih baik. Tanpa modernisasi, perkembangan jamu di pasar domestik dan macanegara akan sulit bersaing,” jelasnya.
Direktorat PMPU OTSKK