Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar Inspirational Woman Talk bertema “Empowered Women, Powerful Change” sebagai wujud komitmen memperkuat peran perempuan dalam pembangunan, khususnya di sektor Kesehatan dan transformasi digital. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, 27 Januari 2025, di Aula Bhinneka Tunggal Ika BPOM, serta diikuti secara hybrid oleh peserta dari berbagai daerah. Acara ini menghadirkan ruang diskusi dan berbagi inspirasi bagi perempuan untuk memperkuat peran, kepemimpinan, dan kontribusi nyata dalam mendorong perubahan positif di berbagai sektor.
Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta secara luring dan sekitar 1.000 peserta daring dari berbagai daerah yang mengikuti melalui Zoom Meeting dan siaran langsung di kanal YouTube BPOM. Acara ini turut dihadiri dan dibuka dengan sambutan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifah Fauzi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor, serta Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. Selain itu, hadir pula Ketua Umum Dharma Wanita Indonesia Ida Rachmawati Budi G. Sadikin dan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) BPOM RI Elfi Taruna Ikrar, yang semakin menegaskan dukungan lintas sektor terhadap pemberdayaan perempuan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa penguatan peran perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pengawasan obat dan makanan, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap percepatan kemajuan bangsa dan peningkatan kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Ia menuturkan bahwa sekitar 70 persen sumber daya manusia di BPOM merupakan perempuan.
“Selain itu, perempuan juga mendominasi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang obat dan makanan, termasuk kosmetik, obat tradisional, dan industri rumah tangga. Kondisi ini menjadikan BPOM memiliki kepentingan besar untuk terus memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan,” ujar Taruna Ikrar.
Lebih lanjut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan pentingnya pengawasan Obat dan Makanan yang responsif gender guna melindungi perempuan dan anak sebagai kelompok strategis dalam pembangunan nasional. Menurutnya, kebutuhan perempuan tidak selalu sama dengan laki-laki, sehingga edukasi pengawasan obat dan makanan perlu menjangkau perempuan lebih luas.
Arifah juga menyampaikan bahwa BPOM berpotensi menjadi role model dalam penerapan kebijakan berperspektif gender. Dalam kerangka menuju Indonesia Emas 2045, perempuan dan anak dinilai sebagai kelompok yang paling merasakan dampak dari kualitas pengawasan obat dan makanan.
“Perempuan dan anak bukan hanya penerima manfaat kebijakan, tetapi juga aktor utama perubahan dalam mewujudkan Indonesia yang sehat, aman, adil, dan berkeadilan gender menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Menteri PPPA.
Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor yang turut hadir juga menegaskan perempuan Indonesia merupakan ujung tombak pembangunan nasional. Ia menegaskan, keberadaan perempuan di sektor pangan dan farmasi bukan hanya penting secara ekonomi, tetapi juga strategis dalam urusan kesehatan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa sekitar 65 persen penggerak ekonomi nasional ditopang oleh UMKM, yang mayoritas dimiliki dan dijalankan oleh perempuan.
“Kementerian Ketenagakerjaan siap berkolaborasi dengan BPOM dan kementerian terkait melalui program pelatihan, pembinaan, serta penciptaan tenaga kerja mandiri guna memperkuat UMKM, sekaligus memastikan produk yang beredar aman, berkualitas, dan terlindungi bagi masyarakat,” ujar Afriansyah.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua DWP BPOM Elfi Taruna Ikrar menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi wadah lahirnya ide, kolaborasi, dan keberanian perempuan untuk terus berkembang. Menurutnya, perempuan yang berdaya akan melahirkan perubahan yang kuat dan berdampak luas bagi masyarakat.
Apresiasi terhadap komitmen BPOM juga disampaikan Ketua Umum Dharma Wanita Indonesia Ida Rachmawati Budi G. Sadikin. Ia menilai BPOM telah membuka ruang yang luas bagi penguatan peran perempuan melalui berbagai program dan jejaring yang telah dibangun.
“BPOM tidak hanya berperan sebagai lembaga pengawas, tetapi juga turut memperkuat kapasitas perempuan di bidang kesehatan, keamanan pangan, dan keberlanjutan industri,” ungkap Ida.
Dalam kegiatan ini, Co-founder and Chief Visionary Officer (CVO) AstyFarm Asty Ananta dan Founder Artificial Intelligence Buatan Indonesia, Aling Wiratma turut hadir memberikan ruang inspirasi bagi perempuan agar terus berdaya. Salah satu pesan utamanya adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi usaha sekaligus membuka peluang kerja baru bagi perempuan.
Di era digital, kemampuan adaptasi teknologi dinilai menjadi kebutuhan utama bagi pelaku UMKM perempuan. Produk tidak hanya dinilai dari kualitas rasa atau fungsi, tetapi juga dari kemasan, narasi, dan daya jangkau di ruang digital.
Sejalan dengan semangat perempuan berdaya di era digital, Founder & Chief Marketing Officer PT Kelas DiGi Kreatif Said Maulana menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk membangun personal branding. Ia menyampaikan bahwa setiap perempuan memiliki potensi unik yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi dan penguatan kompetensi digital.
Melalui kegiatan ini, BPOM berharap perempuan semakin berdaya, adaptif, dan percaya diri dalam menghadapi transformasi digital. Perempuan diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penggerak perubahan yang mampu menghadirkan inovasi, mengambil peran strategis, serta berkontribusi dalam pembangunan yang lebih inklusif. (FS)