"Kalau belum pakai ini, berarti kamu ketinggalan!"
"Wajib checkout!"
"Harus banget dicoba!"
Kalimat-kalimat tersebut tentu sudah tidak asing bagi pengguna media sosial. Dalam hitungan detik, sebuah produk kosmetik dapat menjadi viral karena ulasan influencer, konten before-after, atau rekomendasi yang muncul berulang kali di lini masa. Tren kosmetik bergerak begitu cepat mengikuti perkembangan industri kecantikan dan algoritma media sosial.
Di tengah derasnya arus informasi tersebut, banyak konsumen tergoda untuk mencoba produk yang sedang populer. Tidak sedikit yang langsung menambahkan produk ke keranjang belanja setelah melihat ulasan positif atau klaim yang terdengar menjanjikan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah kita benar-benar memahami kandungan yang terdapat dalam produk tersebut?”
Ketika Tren Menjadi Pertimbangan Utama
Perkembangan industri kosmetik menghadirkan beragam inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi konsumen. Namun, derasnya informasi di media sosial juga membuat tren sering kali menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Faktanya, kebutuhan kulit setiap orang berbeda. Produk yang cocok bagi seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.
Kulit tidak mengenal tren yang sedang viral. Kulit tidak mengetahui bahan aktif apa yang sedang populer atau produk mana yang sedang menjadi perbincangan. Kulit hanya merespons kandungan yang digunakan serta kesesuaiannya dengan kondisi masing-masing individu.
Mengenal Informasi di Balik Kemasan
Ketika memilih kosmetik, perhatian konsumen sering kali tertuju pada klaim yang tercantum di bagian depan kemasan. Padahal sebenarnya informasi penting justru banyak ditemukan pada label bagian belakang atau daftar komposisi. Namun bagi sebagian konsumen komposisi mungkin terlihat seperti kumpulan istilah ilmiah yang rumit dan sulit dipahami. Akibatnya, informasi tersebut sering kali diabaikan. Padahal, komposisi merupakan salah satu sumber informasi yang dapat membantu konsumen mengenali kandungan suatu produk.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, komposisi kosmetik dicantumkan menggunakan nama bahan sesuai International Nomenclature of Cosmetic Ingredients (INCI), yaitu sistem penamaan bahan kosmetik yang digunakan secara internasional. Oleh karena itu, nama bahan yang tercantum pada label sering kali berbeda dengan nama yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang Dapat Diketahui dari Daftar Komposisi?
Daftar komposisi bukan sekadar deretan nama yang sulit dibaca. Melalui informasi tersebut, konsumen dapat memperoleh gambaran mengenai kandungan yang terdapat dalam suatu produk. Bahkan, tata cara pencantuman komposisi pada kosmetik telah diatur secara khusus dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik.
Berdasarkan ketentuan tersebut, komposisi kosmetik dicantumkan menggunakan nama bahan sesuai International Nomenclature of Cosmetic Ingredients (INCI), yaitu sistem penamaan bahan kosmetik yang digunakan secara internasional. Selain itu, daftar komposisi umumnya disusun berdasarkan kadar bahan, dimulai dari bahan dengan jumlah terbesar hingga yang paling kecil. Dengan demikian, bahan yang berada pada urutan awal biasanya merupakan komponen utama dalam formula produk.
Sebagai contoh, apabila suatu produk mengklaim mengandung ekstrak tumbuhan tertentu sebagai bahan unggulan, konsumen dapat melihat posisi bahan tersebut dalam daftar komposisi. Informasi ini dapat membantu konsumen memahami kandungan produk secara lebih objektif, tidak hanya berdasarkan klaim yang ditampilkan.
PerBPOM Nomor 18 Tahun 2024 juga mengatur bahwa bahan yang berasal dari tumbuhan atau ekstrak tumbuhan dicantumkan menggunakan nama genus dan spesies, seperti Teh Hijau (Camellia sinensis) atau Lidah Buaya (Aloe vera). Sementara itu, bahan pewangi dapat ditulis sebagai parfum, perfume, fragrance, aroma, atau flavour, sedangkan bahan pewarna biasanya dicantumkan menggunakan nomor Colour Index (CI). Pada produk yang menggunakan teknologi nanomaterial, nama bahan akan diikuti dengan keterangan "(nano)", misalnya Titanium Dioxide (nano).
Melalui pemahaman sederhana terhadap informasi tersebut, konsumen dapat lebih mengenal produk yang digunakan dan tidak hanya bergantung pada tren atau klaim pemasaran yang sedang populer.
Menjadi Konsumen Kosmetik yang Lebih Cerdas
Memahami komposisi tidak berarti konsumen harus menjadi ahli kimia. Yang terpenting adalah membiasakan diri membaca label dan informasi produk sebelum membeli atau menggunakan kosmetik.
Selain memastikan produk telah memiliki nomor notifikasi BPOM, konsumen juga perlu mencermati komposisi dan tidak hanya terpaku pada tren atau klaim yang sedang viral. Dengan demikian, kosmetik dapat dipilih dan digunakan secara lebih bijak sesuai kebutuhan.
Lebih dari Sekadar Mengikuti Tren
Tren kosmetik akan terus berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan preferensi konsumen. Bahan aktif baru akan terus bermunculan dan mewarnai tren kecantikan. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah pentingnya memahami produk yang digunakan.
Membaca komposisi mungkin tidak semenarik menonton ulasan produk yang sedang viral. Namun, kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu konsumen mengenali produk secara lebih baik dan membuat keputusan yang lebih bijak.
Sebab pada akhirnya, kulit kita tidak mengenal tren. Kulit hanya mengenal kandungan yang digunakan dan bagaimana kita merawatnya. (NP)