Pada awal November 2025 BPOM mengungkap 23 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau dilarang (Periode pengawasan Juli – September 2025). Di antara 23 produk tersebut terdapat 11 produk yang mengandung merkuri.
Apa itu merkuri?
Merkuri (Hg) adalah unsur alami yang terdapat di kerak bumi. Merkuri adalah zat toksik yang sangat kuat, dengan sistem saraf sebagai target utama. Ada 3 bentuk utama merkuri, yaitu:
-
Merkuri elemental/logam (Hg0)
-
Merkuri anorganik (Hg2+)
-
Merkuri organik (termasuk metilmerkuri (MeHg))
Manusia dapat menyerap metilmerkuri (MeHg) dan merkuri anorganik (Hg2+) salah satunya melalui kulit dan pernapasan.
Apa dampak kandungan merkuri pada kosmetik yang digunakan oleh manusia?
Merkuri pada manusia dapat menyebabkan:
-
Iritasi
-
Mual muntah
-
Kerusakan sistem saraf
-
Kerusakan ginjal
Dari penyakit yang disebabkan oleh merkuri tersebut, kerusakan ginjal merupakan salah satu dampak yang paling berbahaya jika terjadi pada manusia.
Bagaimana merkuri dalam kosmetik bisa menyebabkan kerusakan ginjal?
Mekanisme masuknya merkuri dalam kosmetik sehingga menyebabkan kerusakan ginjal ialah sebagai berikut:
1. Masuknya merkuri ke tubuh
Pada kosmetik pemutih, bentuk merkuri yang paling sering digunakan adalah merkuri anorganik seperti merkuri(II) klorida (HgCl₂) atau amonia merkuri. Zat ini dapat menembus kulit dan masuk ke aliran darah, lalu terdistribusi ke berbagai organ, terutama ginjal, karena sifat kimianya yang membuatnya mudah menumpuk di bagian tubulus proksimal, yaitu bagian ginjal yang paling aktif dalam proses penyaringan dan penyerapan zat dari urine.
2. Merkuri menumpuk di ginjal dan merusak sel penting dalam sel ginjal
Ginjal menjadi tempat utama penumpukan merkuri karena berperan menyaring darah. Merkuri yang menumpuk di tubulus proksimal lama-kelamaan merusak sel ginjal dengan cara menempel pada enzim dan protein penting, terutama yang memiliki gugus –SH, sehingga menghambat kerja enzim, mengganggu energi sel, dan akhirnya menyebabkan kematian sel ginjal.
3. Ginjal mengalami stres oksidatif dan kehilangan fungsinya
Merkuri dapat memicu stres oksidatif di sel ginjal, menyebabkan terbentuknya banyak radikal bebas yang merusak bagian penting sel seperti mitokondria, sehingga sel melemah dan mati. Akibatnya, fungsi penyaringan ginjal terganggu, membuat protein bocor ke urine (proteinuria), tubuh mengalami pembengkakan, dan bila paparan terus berlanjut, dapat berujung pada gagal ginjal.
Bagaimana peran BPOM menjaga masyarakat dari penggunaan kosmetik berbahaya?
Badan POM telah mengeluarkan Peraturan BPOM No. 25 tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik, dimana di dalamnya telah diatur mengenai batasan–batasan dalam penggunaan kosmetik termasuk bahan kosmetik yang dilarang untuk digunakan.
Maka itu, yuk sayangi diri kita mulai dari memilih kosmetik yang aman dan bebas merkuri karena kulit cantik bukan hasil instan, tapi hasil dari perawatan yang sehat dan bertanggung jawab.
Referensi:
-
Bridges, C. C., dkk. (2017). The aging kidney and the nephrotoxic effects of mercury. Journal of Toxicology and Environmental Health, Part B: Critical Reviews, 20(2), 55–80.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6088787/pdf/nihms-1502437.pdf -
Martinez-Finley, E., dkk. (2014). Recent advances in mercury research.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5181110/pdf/nihms832433.pdf -
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2025, 31 Oktober). BPOM ungkap 23 kosmetik mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang periode Juli–September 2025. Siaran pers Nomor HM.01.1.2.10.25.369.
https://www.pom.go.id/siaran-pers/bpom-ungkap-23-kosmetik-mengandung-bahan-berbahaya-dan-atau-dilarang-periode-juli-hingga-september-2025
(NP)