Kehamilan merupakan periode penting yang membutuhkan asupan gizi yang optimal untuk mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin. Selama masa ini, kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral meningkat seiring dengan perkembangan janin di dalam kandungan. Sayangnya, asupan dari makanan sehari-hari, seperti buah, sayuran, daging, maupun produk susu, sering kali belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut sehingga ibu hamil berisiko mengalami kekurangan mikronutrien.
Mikronutrien merupakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, tetapi memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga pertumbuhan dan perkembangan janin. Salah satu masalah yang masih banyak ditemukan pada ibu hamil adalah anemia. Sekitar 31-52% ibu hamil mengalami anemia. Penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi, namun kondisi ini juga dapat dipicu oleh kekurangan asam folat dan vitamin B12, infeksi kronis, penyakit kronis, perdarahan berulang, maupun kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat.
Kekurangan mikronutrien selama kehamilan dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, seperti bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), kelahiran prematur, hingga bayi kecil untuk usia kehamilan (Small for Gestational Age atau SGA). Kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kematian bayi baru lahir, tetapi juga dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan, perkembangan kognitif dan motorik, serta meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil sekaligus mencegah anemia dan komplikasi kehamilan, pada tahun 2024 Kementerian Kesehatan mulai memperkenalkan Multiple Micronutrient Supplement (MMS) sebagai pengganti Tablet Tambah Darah (TTD) bagi kelompok sasaran tertentu. Penggunaan MMS sendiri telah direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 2020 dengan mengacu pada formula internasional dari United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation (UNIMMAP) yang dikembangkan melalui kerja sama WHO, UNICEF, dan United Nations University.
Formula MMS ini mengandung 15 vitamin dan mineral esensial yang terdiri dari vitamin A, vitamin D, vitamin E vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B12, asam folat, vitamin C, zinc, zat besi, selenium, tembaga (copper), dan yodium. Kombinasi zat gizi tersebut berperan dalam mendukung pertumbuhan janin sekaligus membantu menurunkan risiko anemia, kelahiran prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah.
Di Indonesia, MMS tersedia secara gratis bagi ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah. Meskipun demikian, penggunaannya tetap harus sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan.
Sebelum mengonsumsi MMS, ibu hamil perlu memastikan tidak memiliki alergi terhadap kandungan suplemen tersebut dan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan apabila sedang mengonsumsi obat, suplemen lain, atau produk herbal untuk menghindari kemungkinan interaksi. Selain itu, perlu diingat bahwa MMS hanya diperuntukkan bagi ibu hamil dan tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan dengan TTD.
Konsumsi MMS dianjurkan dimulai sedini mungkin selama kehamilan karena kandungan asam folat berperan penting dalam mencegah kelainan tabung saraf (neural tube defect) pada janin. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi MMS sebelum usia kehamilan 20 minggu lebih efektif menurunkan risiko kelahiran prematur, sedangkan konsumsi setelah usia kehamilan 20 minggu lebih efektif dalam mengurangi risiko bayi lahir kecil untuk usia kehamilan. Pemberian MMS pada waktu yang tepat diharapkan dapat mendukung hasil kehamilan yang lebih optimal bagi ibu maupun bayi. Konsumsi MMS juga perlu diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik ringan sesuai kondisi kehamilan.
MMS harus disimpan di tempat yang sejuk, kering, terhindar dari sinar matahari langsung, dan jauh dari jangkauan anak-anak. Efek samping yang paling sering dilaporkan setelah mengonsumsi MMS adalah gangguan saluran cerna ringan, seperti mual, muntah, sembelit, atau diare. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, MMS dapat dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur sehingga penyerapan zat gizi tetap optimal.
Perlu diketahui bahwa formulasi MMS UNIMMAP diperuntukkan bagi ibu hamil yang tidak mengalami anemia. Pada ibu hamil yang telah terdiagnosis anemia defisiensi besi, kebutuhan zat besi lebih tinggi dibandingkan kandungan yang tersedia dalam MMS sehingga diperlukan penanganan sesuai pedoman terapi anemia pada kehamilan. Oleh karena itu, penggunaan MMS pada kondisi tersebut harus mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.
Pemenuhan mikronutrien yang optimal selama kehamilan berperan penting dalam menjaga kesehatan ibu dan mendukung pertumbuhan janin. Dengan mengonsumsi MMS sesuai anjuran tenaga kesehatan, disertai pola makan bergizi seimbang dan pemeriksaan kehamilan rutin, diharapkan ibu dapat menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang tumbuh optimal. (ARS)
Referensi
Gomes, F., Adu-Afarwuah, S., Agustina, R., et al. (2025). Effect of prenatal multiple micronutrient supplementation compared with iron and folic acid supplementation on size at birth and subsequent growth through 24 mo of age: a systematic review and meta-analysis. The American Journal of Clinical Nutrition, 122, 185-195. https://doi.org/10.1016/j.ajcnut.2025.04.022.
Kissell, M.C.; Pereira, C.; Gomes, F.; Woldesenbet, K.; Tessema, M.; Kelemu, H.; Noor, R.; Escubil, L.; Panicker, A.; Mishra, A.; et al. Acceptability of Antenatal Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) Compared to Iron and Folic Acid (IFA) Supplementation in Pregnant Individuals: A Narrative Review. Nutrients 2025, 17, 2994. https://doi.org/10.3390/nu17182994.
Kurnia, Kandarina, B. J. I., & Ratrikaningtyas, P. D. (2026). Exploring the Acceptance of Multiple Micronutrient Supplement (MMS) Among Pregnant Women: A Case Study in Kulon Progo District, Yogyakarta: Eksplorasi Penerimaan Multiple Micronutrient Supplement (MMS) pada Ibu Hamil: Studi Kasus di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Amerta Nutrition, 10(1), 96–105.
Murzen, Robby Firmansyah. (2025, 3 Juni). MMS. Diakses pada 16 Juni, dari https://www.alodokter.com/mms.
Oktavianingsih, A. N., Wahyuni, S., & Putri, H. A. (2026). Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Dalam Kepatuhan Konsumsi Multiple Micronutrient Supplement (MMS) di Puskesmas Ngaliyan Kota Semarang (Vol. 8, Issue 1). http://ejournal.poltekkes_smg.ac.id/ojs/index.php/JOMISBAR.
Tarmizi, Siti Nadia. (2024, 17 Oktober). Menkes Tekankan Pentingnya Ragam Mikronutrien bagi Ibu Hamil. Diakses pada 16 Juni, dari https://kemkes.go.id/eng/menkes-tekankan-pentingnya-ragam-mikronutrien-bagi-ibu-hamil.
WHO antenatal care recommendations for a positive pregnancy experience. Nutritional interventions update: Multiple micronutrient supplements during pregnancy. Geneva: World Health Organization; 2020. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.