Zat besi bukan sekedar mineral biasa tetapi merupakan komponen utama bagi perkembangan otak dan pertumbuhan fisik pada anak. Namun data menunjukan bahwa defisiensi zat besi masih menjadi tantangan besar di kesehatan global termasuk di Indonesia. Kondisi ini dapat berkembang menjadi Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang berdampak permanen pada kecerdasan anak.
Berdasarkan laporan terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang digunakan untuk mengukur tren status gizi balita setiap tahun (2019-2024) oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi anemia pada remaja usia 5 - 14 tahun berada di angka 16,3%, semetara pada kelompok usia 15 – 24 tahun mencapai 15,5%. Meskipun angka ini menunjukan penerunan dibandingkan data Riskesdas 2018, angka tersebut masih tergolong tinggi menurut standar World Health Organization (WHO). WHO menegaskan bahwa anemia merupakan masalah Kesehatan masyarakat yang serius jika prevalensianya diatas 5%. Di Indonesia, anemia pada anak terjadi dari kurangnya asupan protein hewani dan rendahnya kesadaran akan pentingnya suplementasi tambahan sejak dini.
Zat besi memiliki peran krusial dalam pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Berdasarkan studi kualitatif terbaru Frontiers in Nutrition tahun 2025, suplementasi zat besi tidak hanya sekadar "menambah darah", tetapi pemberian suplementasi yang tepat dapat mendukung perkembangan kognitif sehingga anak memiliki konsentrasi dan daya ingat yang lebih baik. Selain itu, zat besi membantu meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan infeksi serta mencegah gangguan pertumbuhan seperti stunting. Oleh karena itu, panduan kesehatan menyarankan pemberian suplemen besi harian bagi bayi usia 6-23 bulan di daerah prevalensi tinggi, serta pemberian selama 3 bulan dalam setahun untuk anak usia 5-12 tahun. Bagi remaja putri, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) satu kali seminggu sangat diwajibkan untuk mengganti kehilangan darah saat menstruasi.
Untuk mengoptimalkan penyerapan suplemen, pemberian suplemen bersama sumber Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi di usus halus. Sebaliknya, hindari pemberian suplemen bersamaan dengan susu, teh, atau kopi karena kandungan kalsium dan tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan secara signifikan. Sebelum membeli produk suplemen kesehatan diwajibkan untuk melakukan Cek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa) untuk memastikan keamanan dan mutu produk, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis anak guna menghindari risiko toksisitas dan memantau efek samping pencernaan. Dengan kombinasi pola makan gizi seimbang dan suplementasi yang tepat sasaran, kita dapat memutus mata rantai defisiensi zat besi di Indonesia demi masa depan anak yang lebih cerah.
Referensi
1. Frontiers in Nutrition. (2025). Iron supplementation in children: A systematic review. Frontiers in Nutrition.
2. World Health Organization. (2023, May 1). Anaemia. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anaemia
3. World Health Organization. (n.d.). Iron supplementation in children. e-Library of Evidence for Nutrition Actions (eLENA). https://www.who.int/elena/titles/iron-children/en/
4. Nguyen, M., & Tadi, P. (2023, July 3). Iron supplementation. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557734/
5. Kementerian Kesehatan [Kemenkes]. (2023). Survei kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Kemenkes RI.