Populasi lansia terus meningkat secara global. World Health Organization memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 1 dari 6 orang di dunia akan berusia ≥60 tahun, dan jumlah ini akan mencapai 2,1 miliar pada tahun 2050 (WHO, 2021). Di Indonesia, proporsi lansia juga meningkat menjadi sekitar 10,48% dari total populasi (BPS, 2022).
Kebutuhan Mikronutrien pada Lansia
Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan fungsi fisiologis seperti penyerapan vitamin B12, kalsium, dan vitamin D. Studi menunjukkan bahwa sekitar 30% lansia mengalami gangguan penyerapan vitamin B12, sementara lebih dari 40% lansia mengalami kekurangan vitamin D (NIH, 2022). Kondisi ini meningkatkan risiko osteoporosis, anemia, serta penurunan sistem imun.
Mikronutrien yang terdiri dari vitamin dan mineral memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh, meningkatkan daya tahan, serta mencegah penyakit degeneratif yang umum terjadi pada lansia. Beberapa mikronutrien yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi:
- Kalsium dan Vitamin D
Keduanya berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis. Diperkirakan sekitar 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun mengalami fraktur akibat osteoporosis (WHO, 2021). - Vitamin B12
Defisiensi vitamin B12 terjadi pada sekitar 10–20% lansia dan dapat meningkat hingga 30% pada kelompok tertentu, terutama akibat penurunan produksi asam lambung yang memengaruhi penyerapan (NIH, 2022). - Zink
Sekitar 17% populasi global berisiko mengalami kekurangan zink, yang berperan penting dalam fungsi sistem imun, penyembuhan luka, dan sintesis protein (WHO, 2021). - Vitamin C dan E
Berfungsi sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas serta mengurangi stres oksidatif yang meningkat seiring proses penuaan.
Selain itu, faktor seperti penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, penggunaan obat-obatan, serta penyakit kronis juga meningkatkan risiko kekurangan mikronutrien pada lansia.
Pentingnya Pola Makan Seimbang
Pemenuhan gizi seimbang tetap menjadi prioritas utama. Suplemen hanya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan. Oleh karena itu, kebutuhan mikronutrien sebaiknya dipenuhi melalui pola makan yang beragam dan seimbang, yang mencakup sayur, buah, sumber protein, serta produk susu atau alternatifnya.
Dalam kondisi tertentu, suplementasi dapat dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak tercukupi dari makanan. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara bijak, sesuai kebutuhan individu, dan dianjurkan di bawah pengawasan tenaga kesehatan guna menghindari risiko kelebihan asupan.
Dengan pemenuhan mikronutrien yang optimal, lansia dapat mempertahankan fungsi tubuh, meningkatkan kualitas hidup, serta menurunkan risiko penyakit degeneratif. Oleh karena itu, perhatian terhadap kebutuhan mikronutrien merupakan langkah penting dalam mendukung penuaan yang sehat dan produktif.
Risiko dan Keamanan
Meskipun bermanfaat, penggunaan suplemen yang tidak tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan. Studi menunjukkan bahwa sekitar 15–20% lansia berpotensi mengalami interaksi antara obat dan suplemen, terutama pada individu dengan terapi multiobat (polypharmacy). Selain itu, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan efek toksik, seperti hiperkalsemia, gangguan fungsi ginjal, maupun ketidakseimbangan elektrolit.
Suplemen kesehatan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi lansia, khususnya pada kelompok berisiko defisiensi. Namun, penggunaannya harus rasional, berbasis kebutuhan individu, serta berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Seiring meningkatnya populasi lansia, edukasi mengenai penggunaan suplemen yang aman dan tepat menjadi semakin penting untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan kualitas hidup. (WH)
Sumber
- Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2022.
https://www.bps.go.id/id/publication/2022/12/27/3752f1d1d9b41aa69be4c65c/statistik-penduduk-lanjut-usia-2022.html - National Institute on Aging. (2021). Dietary Supplements for Older Adults.
https://www.nia.nih.gov/health/vitamins-and-supplements/dietary-supplements-older-adults - World Health Organization. (2021). Healthy Ageing and Nutrition. World Health Organization.
https://www.who.int/ - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Lansia Berdaya, Bangsa Sejahtera.
- Dewi, S. R. (2019). Status Nutrisi Lansia dan Risiko Jatuh pada Lansia. Indonesian Journal of Health Science.
- Ścisło, L., et al. (2025). The Impact of Polypharmacy on Nutritional Status in Older Adults. Frontiers in Nutrition.
https://doi.org/10.3389/fnut.2025.1516103 - Campos, M. J., et al. (2024). Food Supplements and Their Use in Elderly Subjects: Risks of Polypharmacy and Interactions. Nutrients.
https://doi.org/10.3390/nuXXXX